Senin, 29 Februari 2016
Hitung-Hitungan Politik dari Penolakan Ridwan Kamil menjadi DKI-1 oleh Kurawa
Ridwan Kamil terinspirasi oleh Kobe Bryant dari SMU langsung ke NBA, saatnya dari Walikota langsung ke Presiden 2019 .. #Emil4RI-1
Gue salut sama hitungan politik kang Ridwan Kamil yang memutuskan tidak akan maju ke DKI, bukan karena soal cinta ke warga Bandung. Pertama, kang Emil pasti berpikir panjang kalau sampai dia kalah di DKI, maka dia akan menjadi pengangguran selama hampir 2 tahun, mengapa?
Dalam aturan terbaru kepala daerah yang akan maju ke pilkada daerah lain harus "BERHENTI" dari jabatannya, enggak bisa lagi cuti kaya dulu. Masa tugas kang Emil di Bandung kan sampai 2018, jadi kalau dia berhenti dan kalah di DKI maka dia akan balik kerja jadi Buzzer medsos. Dalam hitungan politik kang Emil target paling realistis adalah pilkada Jawa Barat tahun 2018 menggantikan Aher yang sangat "berprestasi".
Kalau pilkada Jabar 2018 dia dalam posisi nganggur, tentu agak repot untuk bisa "kampanye" secara gratis lagi. Elektabilitas dia sekarang sudah 30%. Probabilitas kemenangan Jawa Barat saat ini cukup tinggi, dia melihat potensi terbesar lawan terberatnya tinggal bupati Purwakarta. Kalau kang Emil kalah di DKI maka, kang Dedi Mulyadi bakal injak gas dalam untuk menyusul elektabilitas Emil dalam 2 tahun kedepan.
Kalau kata timses kang Emil : Udehhhh yang pasti-pasti aja deh kang, Jabar 1 agak lebih mudah dibanding DKI. Ingat Jabar itu dapil terbesar. Perhitungan yang kedua mengapa kang Emil enggak jadi maju ke DKI soal dukungan parpol, beliau hanya mau maju kalau PDIP dukung dia. Kalau cuma didukung Gerindra dan PKS sih kang Emil sudah ditangan. Menurut dia, 2 partai ini enggak akan cukup berbuat banyak untuk kemenangannya. Sampai di injury time permintaan dukungan dan restu dari mamak banteng enggak turun-turun untuk kang Emil, makanya dia enggak mau ambil resiko kalah.
Kang Emil sudah mengitung kalau cuma PKS paling yang disodorin jadi cawagubnya kalo gak Nurwahid yah Triwisaksana, paling cuma nambah 3%. Kalau wakilnya Gerindra yang disodorin Sandiaga Uno atau si Taufik doang, ini lebih miris bukannya nambah malas minus 10%. Kalau dari PDIP kan minimal walau cuma Djarot tapi akan didukung secara terpaksa oleh Jokowi selaku kader banteng, hehehehe.
Yah tapi begitu deh, PDIP enggak mau, sampai sekarang masih bujuk Ahok untuk maju lewat parpolnya, kang Emil sedih deh. Jadi kalau masih ada yang percaya karena warga Bandung sih biarin aja deh, yang tulus itu contohnya bu Risma, dia enggak pakai injury time. Hanya orang-orang yang "berhitung" yang menentukan sesuatu di injury time, kelebihan dan kekurangan dipikirkan sedemikian rupa #kode neh.
Jadi kalian pendukung kang Emil jangan marah-marah ke gue dong, gue sudah bilang kalau gue salut sama hitungannya Ridwan Kamil, artinya kita sama. Untung gue enggak pakai emoticon cowok sama lekong berpegangan tangan bisa berpotensi dibilang propaganda LGBT pula. Tapi kang Ridwan Kamil jangan cepat puas dulu yah, simpati publik kali ini hanya sementara, bukti nyata perubahan Bandung itu yang ditunggu.
Cuma ingatkan saja, kalau pesaing kang Emil seperti kang Dedi Mulyadi di Purwakarta sudah banyak kasih bukti kalau daerahnya mulai keren loh, beware.
Kurangi mainin gadget nya yah kang Emil, masa tiap hari 4 akun medsos nya dilalap habis (Twit, FB, Path dan IG)..
Ayo kita buat Bandung bagus.
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar